Realitas Mimpi
Tuhan pernah memberikan mimpi,
yang diterjemahkan dalam cita
dan teradopsi oleh cerita
Lalu manusia diajarkan berharap,
lewat berbagai macam doa-doa
yang diimani dalam amin
Maka selama rasa percaya itu ada,
mimpi adalah hak setiap manusia,
dan realitas adalah kewajibannya
―@lauradamerosa
Kamu yang Tak Sama
Kamu hadir di tengah beda,
mengisi apa yang tak pernah ada
Perjuangan demi perjuangan,
dan tersusunnya berbagai angan
Lalu kamu perlahan menghilang,
meninggalkan hal-hal untuk dikenang
Jikalau karena beda kita bersama,
biarlah karena beda pula kita berpisah
―@lauradamerosa
Tolong Aku
Tolong bawa aku di gegap gempitamu
Tempat di mana kamu namai itu ceria
Tempat pengubahan kecewa jadi tawa
Tolong pinjamkan aku tegar yang sabar
Yang kau pegang di tiap-tiap tegangmu
Adakah celah pernah merasa kalah?
Tolong izinkan aku jadi kamu
Untuk dapat meramu segala jemu
Dan meringis di kala tangis
―@lauradamerosa
Taktik Jarak
Bentangan yang ada setiap kita,
pengurungan akan pertemuan,
kilometer-kilometer perjalanan,
itu namanya jarak.
Tinggalah kita yang menahan,
menjalin tiap komunikasi,
menjalani saling percaya,
itu namanya taktik.
Karena meski jarak itu statis,
bukankah kita harus taktis?
―@lauradamerosa
Konsep Sederhana
Aku suka konsep-konsep yang sederhana
Seperti kepala yang cukup terbaring
Terpejamnya mata dari tiap-tiap gundah
Dan tangan yang dibiarkan tergandeng
Aku suka konsep-konsep yang sederhana
Biar tiap rasa yang ada di antaranya
Yang mengalir ke segala arah
Tinggal cukup aku nikmati saja
―@lauradamerosa
Suatu Akhir
Suatu pagi, mata yang membuka tak lagi sama melihat
Kenyataan, atau memang kehidupan bergerak terlalu cepat
Menggiring pada hal-hal yang kunjung mendekat
Jikalau itu akhir, memanglah adanya seperti kelam mencekat
Hingga pada suatu pagi, kalau aku merasa terlampau lekat
Akan larangan-larangan yang nantinya berbuah jahat
Izinkan, atau utuskan apapun yang lain menghambat
Agar jangan aku masuk di gelap-gelap yang pekat
―@lauradamerosa
Pertemuan
Bangku kayu yang tergeletak kosong di sudut taman seperti memanggil untuk kembali singgah. Seperti rindu akan celoteh bertahun-tahun lalu yang menemani hidupnya kala sore datang. Hingga bulan mulai tampak, tinggalah ia sejenak sendiri untuk menunggu persinggahan suatu waktu.
Selayaknya kita yang tak kunjung kembali satu setelah perpisahan bertahun-tahun lalu. Hingga musim berganti beberapa kali, tinggalah kita masing-masing sejenak sendiri untuk menunggu pertemuan. Namun rindu bukan lagi hal yang dapat menyatukan kedua pihak yang termakan gengsi setelah amarah yang tercetus.
Akhirnya tinggalah harapan dengan doa-doa yang sama, agar ada rencana Tuhan bagi pertemuan kita di kemudian. Dan ku rasa, kita satu harap. Senang bertemu kembali.
―@lauradamerosa
Perempuan
Pada dada berselimut hangat, aku mengeluh
melepaskan keluh kesah sepanjang asa
dengan cengkrama yang menentramkan
agar setiap telinga yang menyimak
tersenyum lega, mengangguk puas
Jika gelap coba menakuti riangku
tidak usah gelisah, ada sesosok
perempuan dengan mata terteduh
yang merelakan rangkulan erat
bersama hingga terang datang lagi
Telah genap berbelas-belas tahun
sosok perempuan penjaga, tulus ikhlas
meski tak sekalipun aku mengerti
bagaimana cara untuk sedikit saja
memberikan yang setimpal bagimu
Tinggalah doa-doa yang terpanjat
ku tutup dengan amin dalam iman
juga ucap ucap terima kasih
Meski usiamu tak lagi muda,
temani aku hingga menua
―@lauradamerosa
Dunia Kita
Kalau ada yang bilang dunia itu sempit, mungkin hanya pertemuan-pertemuan yang menjadi alasannya. Seperti sepasang manusia yang tidak saling kenal, berkenalan lewat teman masing-masing.
Misalkan saja kita bisa bertemu, itulah contoh ketidaksengajaan yang sengaja diciptakan Tuhan di tengah luasnya dunia yang sama-sama diarungi. Bukan berarti dunia itu sempit.
Karena sebenar-benarnya, dunia itu luas. Seperti selama apapun berputar dan masih belum ditemui ujungnya. Dunia itu luas, dan kita sama-sama perlu ‘kita’ untuk menghabiskannya bersama.
―@lauradamerosa
Hari ke-30: Bersama
Kepada kamu, yang akhirnya mengilhami ke-30 surat. Ini surat terakhir dan bukan tanda berakhir. Karena tanpa tulisan, masih ada yang dapat disebut lisan. Karena tanpa apa yang tersurat, masih ada apa yang dapat tersirat.
Dan kita tetap menjadi kita sampai surat ini selesai. Yang bersama, meski berbeda. Kalau ada yang bilang perbedaan ada untuk melengkapi, amini saja dalam iman, karena bisa jadi itu adalah salah satu cara kita mengucap syukur selama masih dalam kebersamaan.
Entah harus seberapa panjang kata yang sebaiknya ada untuk menutup rangkaian panjang. Meski jutaan kata terkadang dibuat bukan untuk dibaca, melainkan jadi kisah ketika kita tak lagi ada. Dan selagi bisa, coba baca saja, dan selamat masih bersama.
Tangerang, 14 Februari 2012
@lauradamerosa